Waktu kelas IX, aku dapet tugas B. Indonesia tentang menulis cerpen berdasarkan pengalaman. Ya...memang cerita ini ga 100% nyata sih wkw-_-
Oke enjoy~
Kita Pasti Bertemu Lagi..
Karya: Dwi Linda S.
Perkenalkan, namaku Nabila Adelia
Putri. Teman-teman biasa memanggilku Abil. Aku adalah anak dari pasangan Ayah
Henry dan Mama Lily. Mereka berdua adalah Orang Tua yang sangat menyayangi
kami, anak-anaknya. Tetapi jika kami nakal, bisa-bisa kami menjadi sasaran
empuk untuk omelan mereka. Huh.. tapi, tentu saja kami tetap menyayangi mereka.
Kami adalah 3 bersaudara. Aku adalah anak pertama. Aku mempunyai dua orang
adik, dua-duanya laki-laki. Mereka bernama Naufal dan Ryan. Kedua adikku itu
sangat nakal, terkadang malah tiba-tiba berkelahi, padahal hanya hal sepele
yang dipermasalahkan. Aku sebagai kakak mereka, sering disalahkan Ayah dan
Mama, alasannya hanya karena aku adalah kakak yang paling tua. Huh.. itu sangat
menyebalkan! Mungkin kalian pernah merasakan perasaan yang sama denganku. Itu
sangat tidak enak kan? Oh iya sampai lupa, sebenarnya kami adalah 4 bersaudara.
Tapi, kakak pertama kami, Kak Rio, telah meninggal dunia karena terkena
penyakit demam berdarah. Dia meninggal waktu berumur 3 tahun. Yah, aku belum
lahir waktu itu, otomatis aku tidak pernah melihat langsung wajah Kak Rio,
hanya bisa melihat wajahnya lewat foto. Beberapa waktu lalu, Naufal dan Ryan
pernah terkena penyakit demam berdarah dan harus menginap di rumah sakit selama
beberapa hari. Perasaanku saat itu campur aduk, karena akibat penyakit itu,
nyawa kakak pertamaku melayang. Dan sekarang, kami hanya bisa mengirim doa
untuk Kak Rio yang sudah berada di surga.
Saat ini, kami bertempat tinggal
di Bogor. Tepatnya sekitar 1 km dari Kebun Raya Bogor. Rumah yang menjadi
tempat tinggal kami saat ini bukanlah rumah kami sendiri, melainkan kami
mengontrak rumah kecil itu. Ibu yang mengontrakkan rumahnya kepada kami adalah
orang yang baik. Terkadang jika beliau mempunyai makanan atau minuman yang
lebih, beliau membawakan makanan dan minuman lebih itu kepada kami. Yah, memang
Ibu itu sungguh baik.
Aku mempunyai dua sahabat yang benar-benar
baik padaku. Mereka bernama Alis dan Hana. Jika kami mempunyai masalah atau
sesuatu yang perlu diceritakan, kami selalu bercerita dan saling curhat satu
sama lain. Yah, kami memang kompak. Bukannya aku menyombong, tapi memang begitu
keadaannya. Aku dan Hana bersekolah di sekolah yang sama, yaitu SMPN 3 Bogor.
Kami berdua berada di kelas yang sama, yaitu di kelas IX-2. Sedangkan, Alis
bersekolah di SMPN Tunas Bangsa Bogor. Seperti layaknya pelajar lainnya, tahun
depan kami harus menghadapi Ujian Nasional, jadi kami bertiga harus belajar
lebih ekstra. Kami bertiga bisa kenal dekat karena kami memang sahabat dari
Taman Kanak-Kanak.
***
Sepulang sekolah, biasanya aku dan kedua sahabatku berkumpul di salah
satu rumah kami bertiga untuk belajar bersama atau hanya sekedar berbincang-bincang
dan bercerita. Hari ini hari Jum’at, jam pulang sekolahku dan Hana sama dengan
sekolah Alis, yaitu pukul 11 tepat. Kami bertiga berjanji untuk belajar bersama
pada pukul 12.
Setelah semua berkumpul, kami memulai topik belajar kami. Hari ini kami
membahas pelajaran fisika, yaitu tentang listrik dinamis.
“Bil, kamu tau caranya nomor 8? Susah banget itu..”, tanya Alis.
“Oh yang itu.. Ada kok caranya di halaman sebelumnya,” jawabku.
“Oh iya, makasih Bil,” kata Alis.
“Iya sama-sama,” jawabku.
Hana datang dengan membawa tiga gelas air sirup dan dua toples makanan
ringan.
“Makanan datang..” kata Hana dengan suara keras mengagetkanku.
“Wih, enak nih!” celetukku.
“Kerjain ini dulu, Abil! Nomor 10 aja deh, ajarin aku ya..?” rayu Alis
sambil memasang muka memelas.
“Iya Nona Alis.. Gini loh caranya..” jawabku, lalu menjelaskan kepada
Alis.
“Oh.. Kalau begini ya gampang..” kata Alis sambil menjentikkan jarinya.
“Ih dasar kamu ini..” kataku sambil menjitak kepala Alis pelan.
“Hahaha kalian ini kerjanya berantem aja.. Semoga ya kita bisa
kumpul-kumpul seperti ini sampai kita tua nanti.” Kata Hana serius.
“Hm.. Iya Han, pasti kita bisa kumpul-kumpul terus seperti ini.”
jawabku.
“Udah ah kok malah melankolis gini. Ayo cepat kita makan jajanannya..”
kata Alis.
“Ih dasar kamu makanan terus yang dipikirin! Aku juga mau.” kataku
sambil mengambil satu kue di toples.
“Enak banget kuenya! Kamu buat sendiri, Han?” tanyaku.
“Hihi iya Bil. Aku sama Ibuku yang membuatnya. Makasih loh pujiannya!”
jawab Hana sambil tersenyum.
“Iya sama-sama.” Jawabku.
***
“Apa, Ma? Kita harus pindah rumah?” tanyaku kepada Mama.
“Iya nak, kontrakan kita sudah habis,” jawab Mama.
“Terus kita mau tinggal dimana, Ma?” tanyaku cemas.
“Sementara kita tinggal di rumah Nenekmu yang ada di Medan. Bulan depan
kita akan pindah rumah di dekat rumah Nenekmu. Karena Ayah dan Mama sudah
membelinya, dan kita baru bisa menempatinya bulan depan. Kita akan berangkat
nanti malam, karena Ayahmu sudah memesan tiket pesawat.” kata Mama.
“Nanti malam? Apa tidak bisa ditunda, Ma? Aku harus pamit ke rumah Alis
dan Hana, Ma.. Lalu, bagaimana sekolahku?” kataku.
“Kamu harus tetap di rumah sambil menyiapkan barang-barang. Sekolahmu
sudah diurus Ayahmu tadi pagi, kamu tidak perlu khawatir. Kalau soal
sahabat-sahabatmu itu, telepon saja mereka.” kata Mama.
“Tapi pulsaku habis, Ma.” kataku.
“Ini pakai handphone Mama saja.” kata Mama sambil menyerahkan
handphonenya.
“Makasih, Ma.” jawabku.
Lalu aku memencet-mencet tombol nomor
handphone Alis di handphone Mama, tetapi tidak diangkat oleh Alis. Aku mencoba
beberapa kali tetap saja tidak diangkat oleh Alis. Lalu aku mencoba menelepon
Hana, tetapi yang ada hanya suara operator yang menandakan bahwa nomor handphone
Hana tidak aktif. Apa maksudnya ini?
***
“Sudah siap semua?” tanya Mama.
“Sudah Ma.” jawabku.
Aku tau ini sulit, aku harus meninggalkan kedua sahabatku untuk tinggal
di luar pulau. Aku tidak tau aku bisa bertemu mereka lagi atau tidak.
Sebenarnya, aku sangat ingin memberitahu dan berpamitan kepada mereka. Tapi apa
daya..
Aku hanya bisa berharap semoga kalian
tidak marah karena kepergianku dan aku sangat berharap kita dapat bertemu lagi
dan bercanda gurau seperti kemarin..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar